Persaingan Hegemoni Politik Barat dan Islam Timur Tengah dan Afrika Utara dalam Perspektif Antonio Gramsci

 


Aldrich Noveandro Rafif Suryopramono


Teori Sosiologi Modern A


Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Kebudayaan dan hukum Islam yang telah lama berdiri di negara-negara Arab, dari mulai jazirah arab, persia, hingga afrika utara merupakan hasil dari proses Islamisasi yang dimulai sejak zaman Khulafaur Rasyidin. Pembebasan Mesir oleh Amr bin Ash dari kekuasaan Byzantium merupakan awal keemasan sekaligus gerbang pembuka yang dilakukan kaum muslimin untuk menyebarkan pengaruh Islam ke Afrika Utara. Timur Tengah dan Afrika Utara pada masa itu memang wilayah yang sangat strategis, terlebih untuk membangun jalur perdagangan dan melakukan perluasan wilayah bagi suatu kerajaan. Jatuhnya Timur Tengah dan Afrika Utara ke tangan umat muslim selama masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam) memberikan suatu nuansa baru bagi masyarakat yang berada di wilayah tersebut yang mengharuskan mereka untuk beradaptasi dengan kebudayaan dan hukum yang baru. Periode Islam di wilayah tersebut terus berlangsung hingga masa Kesultanan Ottoman runtuh.

Setelah kesultanan Ottoman dibubarkan secara resmi pada tahun 1924, sebagai dampak dari kekalahannya pada perang dunia pertama yang pada akhirnya berujung dengan perang kemerdekaan Turki, negara-negara Arab yang tadinya menerapkan budaya dan hukum Islam, mulai menggantinya dengan menerapkan budaya dan hukum yang berasal dari Barat. Sehingga hukum Islam pun diganti dengan hukum yang berdasarkan pada paham yang dianut oleh pemimpin atau penguasa saat itu. Beberapa negara di Afrika Utara seperti Libya dan Mesir, sempat menerapkan fasisme, lalu kemudian berubah menjadi negara yang menganut sistem sosialis, lalu akhirnya merubahnya kembali menjadi nasionalis. Aljazair, Tunisia, dan Mali yang dikuasai oleh Perancis selama pasca perang dunia kedua sempat menerapkan liberalisme dan kapitalisme, namun pada akhirnya berubah setelah mereka merdeka. Sedangkan Maroko sampai saat ini masih berbentuk kerajaan Islam. Begitu pula negara-negara di Timur Tengah seperti Irak, Suriah, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirate Arab mulai mengganti kiblat kebudayaan dan perekonomiannya ke arah Barat meskipun secara bertahap.

Dominasi Barat baru mulai benar-benar terasa di Afrika Utara  dan Timur Tengah setelah terjadinya Arab Spring yang dimulai dengan sebuah protes terhadap rezim yang otoriter di Tunisia, kemudian melebar menjadi sebuah demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh hampir semua negara-negara Arab di Afrika Utara maupun di Timur Tengah. Satu hal yang paling sering kita ingat dalam Arab Spring ini adalah kejatuhan rezim Muammar Khadafi di Libya. Pasca Arab Spring tersebut, semua negara-negara Arab mulai menunjukkan kedekatannya pada politik, ekonomi, hukum, dan budaya Barat.

Berdasarkan pada persaingan hegemoni Islam dan Barat di atas, penulis sangat tertarik untuk menganalisisnya dalam kacamata Antonio Gramsci. Sebagai seorang tokoh yang banyak melakukan perkembangan teori sosial terutama tentang negara dan hegemoni, Gramsci merupakan tokoh kunci dalam membahas terkait dengan topik di atas. Sebelum masuk ke arah topik utama, alangkah lebih baiknya kita mengenal biografi dari Antonio Gramsci terlebih dahulu. Penulis akan menjelaskan sedikit tentang perjalanan hidup Antonio Gramsci dan tokoh yang mempengaruhi pemikirannya.

Antonio Gramsci lahir di Ales, Provinsi Oristano, di Pulau Sardinia, Italia, pada 22 Januari 1891. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Pada tahun-tahun awal, kehidupan keluarganya tidaklah terlalu miskin. Ayahnya yang bernama Francesco, adalah anak seorang kolonel dari Naples. Seluruh keluarga Francesco sempat menyelesaikan pendidikan dan mendapat posisi yang baik dalam pekerjaan. Kecuali Francesco. Ia kurang beruntung. Ketika ayahnya meninggal, studinya terpaksa putus di tengah jalan. Francesco kemudian harus mencari pekerjaan sendiri di Ghilarza, sebuah kota kecil di Sardinia yang merupakan daerah miskin. Karena itulah kedua orang tua Gramsci berusaha untuk menyekolahkan anaknya agar dapat hidup lebih baik kelak. Namun ambisi itu runtuh setelah ayahnya dipecat dari pekerjaannya tanpa mendapat pesangon karena dituduh melakukan kecurangan “administratif”, dan pada tahun berikutnya ayahnya harus berada di penjara selama enam tahun. Peristiwa tersebut cukup meremukkan kehidupan ekonomi keluarga besar Gramsci. Sementara ibunya sendiri hanya menjadi tukang jahit untuk mencukupi kebutuhan keluarganya itu.[1]

Pada tahun 1911, Gramsci mendapatkan beasiswa untuk masuk ke universitas di Turin. Ia diterima di Fakultas Sastra. Maka, kepindahannya ke Turin ini menjadi pacuan awal perubahan kehidupannya. Kehidupannya di lingkungan kampus membawa hikmah yang besar. Ia berteman dekat dengan sejumlah profesor penting seperti Matteo Bartoli, seorang sejarawan dan ahli linguistik. Lalu Ia juga berteman dengan Luidi Einaudi, seorang ekonom, dan juga Umberto Cosmo, seorang sastrawan dan sarjana ahli Dante.[2]

Gramsci juga mulai berpetualang dalam pergolakan pemikiran intelektual Italia yang punya hubungan dekat dengan gerakan sosialis. Gramsci pun pada akhirnya terpengaruh oleh pemikiran Marx, Engels, dan juga Lenin. Selain itu, tokoh lain yang cukup berpengaruh bagi pemikiran intelektual Gramsci adalah Benedetto Croce. Croce menjadi semacam Godfather bagi lingkungan intelektual Italia. Gramsci bukan hanya sekedar tokoh yang bergulat dengan ide-ide intelektual, tetapi ia juga terlibat aktif dalam berpolitik. Saat di Turin, Gramsci mulai aktif melakukan perjuangan politik. Ia berkenalan dengan organisasi-organisasi massa militan dan bergabung ke dalam Partai Sosialis Italia. Keaktifannya dalam berpolitik itu membuat ia ditahan oleh penguasa fasis pada tanggal 8 November 1926.

Meskipun ia ditahan, Gramsci tetap berkontribusi dalam pemikiran-pemikiran kirinya yang ia tulis di dalam penjara. Ia juga rajin menulis surat kepada istri dan anak-anaknya. Ia menerjemahkan karya-karya Marx dan juga mempelajari sejumlah karya Lenin. Gramsci menulis lebih dari 30 buku catatan dan 3000 halaman sejarah dan analisis selama di penjara.

Salah satu dari pemikirannya yang paling dikenal adalah tentang negara dan hegemoni. Hegemoni menurut Gramsci merujuk pada pengertian tentang situasi sosial-politik, dalam terminologinya disebut “momen” dimana filsafat dan praktek sosial masyarakat menyatu dalam keadaan seimbang. Dominasi merupakan konsep dari realitas yang menyebar melalui masyarakat dalam sebuah lembaga dan manifestasi perorangan. Pengaruh dari spirit ini berbentuk moralitas, adat, religi, prinsip-prinsip politik dan semua relasi sosial. Hegemoni selalu berhubungan dengan penyusunan kekuatan negara sebagai klas diktator.[3]

Sumbangan terbesar Gramsci untuk marxisme adalah bahwa ia mensistematisir apa yang ditulis Marx secara tersirat menjadi suatu ilmu marxis tentang aksi politik. Gramsci melakukannya lebih dari sekedar pengenalan sederhana, bahwa politik adalah aktivitas otonom dalam konteks perkembangan sejarah kekuatan material. Baginya, “politik adalah pusat aktivitas manusia, yang dengannya kesadaran tunggal bersentuhan dengan alam dunia dan kehidupan sosial dengan segala bentuknya”.[4]

Gramsci menjawab pertanyaan yang selama ini dilontarkan kepadanya yaitu tentang mengapa pergerakan kaum kiri di Eropa Barat mengalami kegagalan dan kebuntuan. Sekaligus menjawab tentang “mengapa kapitalisme masih bertahan?”, sementara Gramsci berkeyakinan bahwa prakondisi sosial dan ekonomi untuk transisi kepada sosialisme sudah ada. Menurutnya, kebertahanan kapitalisme disebabkan saling keterkaitan antara basis dan superstruktur dalam menentukan perubahan sosial. Untuk itulah ia membagi superstruktur menjadi dua tingkatan, “masyarakat sipil” dan “masyarakat politik” atau negara.[5]

Kedua fungsi ini saling berhubungan. Perangkat institusi yang pertama memperoleh persetujuan spontan dari massa rakyat terhadap arah umum yang dipaksakan pada kehidupan sosial oleh kelompok fundamental yang dominan. Alat-alat kekuasaan yang memaksa dari negara, secara legal memaksakan “disiplin” ketika persetujuan tidak didapatkan. Jadi hegemoni merujuk pada kedudukan ideologis satu atau lebih kelompok atau kelas dalam masyarakat sipil. Munculnya negara dalam masyarakat kapitalis adalah akibat dari tidak terdamaikannya pertentangan kelas antara borjuis dan proletar. Oleh karena itu, hegemoni di sini dapat dilakukan dengan atau tanpa ancaman kekerasan.

Bagi Marx dan juga Gramsci, masyarakat sipil adalah faktor kunci untuk memahami perkembangan kapitalis, tetapi oleh Marx, ia dipahami sebagai struktur (hubungan-hubungan produksi). Sebaliknya, Gramsci melihat itu sebagai superstruktur yang mewakili faktor aktif dan positif dari perkembangan sejarah. Ia merupakan hubungan-hubungan budaya dan ideologi yang kompleks, kehidupan intelektual dan spiritual, serta ekspresi politik dari hubungan-hubungan itu menjadi suatu analisa yang lebih daripada sebuah struktur.

Dalam menganalisis terkait dengan persaingan hegemoni Barat dan Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara, penulis menghubungkannya dengan pandangan Gramsci terhadap hegemoni itu sendiri. Kejayaan Islam yang cukup lama di Timur Tengah dan Afrika Utara berakibat pada kentalnya budaya dan pengaruh hukum Islam di wilayah tersebut. Di sisi lain, kolonialisasi bangsa Barat di negara-negara pada wilayah tersebut menyebabkan menguatnya pengaruh budaya dan politik Barat yang pada akhirnya juga berimbas pada munculnya kapitalisme di negara-negara Arab.

Sistem kolonialisme yang berbeda di antara, misalnya, Libya dan Mesir, menyebabkan perbedaan corak politik dan pemerintahan yang ada pada negara tersebut. Libya yang pada akhirnya meletus sebuah revolusi yang mempropagandakan slogan “Anti Italia” lebih didukung oleh banyak negara dikarenakan Italia pada waktu itu merupakan blok fasis yang kalah dalam perang dunia kedua. Sedangkan nasib yang berbeda dialami oleh negara-negara jajahan Inggris seperti Mesir dan Irak. Negara bekas jajahan pemenang perang dunia tersebut seakan-akan hanya menjadi boneka dari penguasanya.

Hegemoni Islam dan Barat pun kembali bersaing secara terbuka setelah munculnya kekuatan Islam baru di Timur Tengah dengan tokohnya yaitu Saddam Hussein dan di Afrika Utara dengan tokoh sentralnya yaitu Muammar Khadafi. Mereka berdua seakan-akan menjadi angin segar bagi kehidupan kembali dunia Islam. Namun hal itupun tidak berlangsung lama setelah terjadi perang teluk dan adanya kebosanan terhadap rezim Muammar Khadafi yang sudah terlampau lama. Kebosanan tersebut disebabkan oleh krisis ekonomi dan yang paling jelas adalah krisis kepercayaan rakyat terhadap penguasa. Munculnya Arab Spring yang diawali dengan protes terhadap rezim yang otoriter di Tunisia pun melebar hingga ke Libya. Pemberontakan massa menuntut untuk melengserkan rezim Khadafi pun dimulai. Masyarakat Libya pada waktu itu sempat didukung oleh pemerintah Amerika Serikat untuk melancarkan pemberontakan. Mereka pun seakan-akan “terhipnotis” oleh bantuan-bantuan ekonomi dan militer dari Barat sehingga masyarakat Libya menyangka bahwa mereka akan hidup jauh lebih makmur ketika mereka menganut kapitalisme Barat.

Namun, hal yang diharapkan tersebut tidak terjadi. Sebaliknya, justru masyarakat Libya semakin sengsara karena mereka hanya dijadikan alat untuk menumbangkan rezim anti Barat, karena pada waktu itu, Khadafi terkenal akan pemikiran-pemikiran sosialismenya. Begitu pula hal yang demikian terjadi di Irak. Sedangkan di negara-negara jazirah Arab hukum Islam pun semakin tidak diminati karena terkesan konservatif. Pembatasan hak-hak perempuan yang terlalu ketat di jazirah Arab merupakan hal yang sebenarnya juga melanggar hak asasi manusia terhadap kaum perempuan.

Persaingan antara hegemoni Islam dan Barat di wilayah tersebut sampai sekarang terus terjadi, adanya pemimpin-pemimpin “boneka” yang pro Barat dan gerakan wahabisme yang gencar dilakukan belakangan ini, serta pengaruh kapitalisme yang menggiurkan yang masuk ke ranah birokrasi mereka membuat masyarakat terombang-ambing dalam ketidakjelasan. Akan tetapi semua itu kembali lagi di awal, bahwa hegemoni merupakan suatu proses jangka panjang yang mestinya tidak akan dapat dirubah sedemikian mudahnya karena seperti kata Marx dan Gramsci, semua itu merupakan proses dari materialisme historis.

Bibliography:

1.      Patria, Nezar & Andi Arief. 2015. Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR. Hlm 42-44.

2.      Ibid hlm 45-47

3.      Adamson, Walter L. 1983. Hegemoni & Revolution: Antonio Gramsci’s Political and Cultural Theory. California: University of California Press. Hlm 169-170.

4.      Patria, Nezar & Andi Arief. 2015. Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR. Hlm 12.

5.      Ibid hlm 13.

Komentar