Mengenal Auguste Comte, Bapak Sosiologi dan Pencetus Teori Positivisme

 

Aldrich Noveandro Rafif Suryopramono


Teori Sosiologi Modern A


Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



Auguste Comte lahir di Montpellier, Prancis pada tanggal 19 Januari 1798. Comte adalah seorang filsuf yang memperkenalkan istilah sosiologi dan pencetus aliran positivisme, salah satu aliran yang menjadi fondasi utama dalam perkembangan ilmu sosiologi. Aliran positivisme sendiri adalah aliran yang pemikirannya menekankan pada validitas data secara empirik-verifikatif, sehingga lebih banyak menggunakan pengetahuan inderawi pada kegiatan ilmiah yang dilakukan. Gagasannya tentang positivisme merupakan pemikiran yang ia dapatkan secara bertahap dalam perjalanan kehidupannya. Pada awalnya, ia masuk ke sekolah politeknik Ecole di Paris. Namun, pada tahun 1816, politeknik tersebut ditutup untuk direorganisasi, sehingga Comte harus pindah ke sekolah kedokteran di Montpellier. Dalam proses tersebut, ia melihat adanya sebuah perbedaan yang dominan antara agama Katholik yang dianutnya dengan pemikiran keluarga monarki kerajaan yang berkuasa di Prancis, sehingga ia terpaksa meninggalkan Prancis. Kemudian pada tahun 1817, ia menjadi seorang murid sekaligus sekretaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian mengajak Comte masuk ke dalam kalangan intelektual. Namun, pada tahun 1824 Comte meninggalkan Saint-Simon untuk kedua kalinya karena ia merasakan ketidakcocokan dalam hubungannya dengan agama Katholik yang ia anut. Pada masa itulah ia mulai berpikir untuk menemukan apa yang harus ia lakukan selanjutnya, yaitu menemukan filosofi positivisme. Mengenai filosofi positivisme yang ia cetuskan, Comte menyisipkan satu istilah baru ke dalam alirannya, yaitu istilah sociology yang mempelajari tentang kelompok dan masyarakat. Pemikiran Comte sangat terpengaruh oleh situasi Prancis pasca revolusi. Ia lebih banyak melihat fenomena sosial masyarakat dengan metode ilmiah (science), sehingga dalam hierarkinya sociology positivism disejajarkan dengan ilmu alam yang lain seperti biologi, fisika, dan kimia. Positivisme awal masa Comte ini cenderung masih berupa observasi dalam melihat perubahan sosial yang terjadi.

Dalam bukunya yang berjudul “The Positive Philosophy, Comte menggagas sebuah teori positivisme yang ia deskripsikan menjadi hukum tiga tahap (Law of the Three Stages). Melalui hukum ini, ia menyatakan bahwa sejarah umat manusia, baik secara individual maupun secara keseluruhan telah berkembang menurut tiga tahapan, yaitu tahap teologis atau fiktif, tahap metafisik atau abstrak, dan tahap positif atau ilmiah. Pada tahap teologis, manusia meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini dikendalikan oleh kekuatan supranatural yang dimiliki oleh para dewa, roh, atau tuhan. Selanjutnya, pada tahap metafisik, manusia mengalimi pergeseran cara berpikir, karena muncul konsep-konsep abstrak atau kekuatan abstrak selain tuhan, yakni alam. Terakhir yaitu tahap positif atau ilmiah, yang menjelaskan bahwa manusia pada tahap ini sudah meyakini semua gejala alam atau fenomena yang terjadi dapat dijelaskan secara ilmiah berdasarkan peninjauan, pengujian, dan dapat dibuktikan secara empiris. Koento Wibisono dalam bukunya yang berjudul “Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte” menjelaskan pengertian “perkembangan” yang merupakan proses dari berlangsungnya sejarah umat manusia, diberi label arti yang “positif”, yang dimaknai sebagai suatu gerakan “perkembangan” yang menuju ke arah kemajuan atau progresif. Menurutnya, “perkembangan” itu merupakan penjabaran segala sesuatu sampai kepada objeknya yang tidak personal. Menarik bagi penulis dalam mengkaji pandangan Comte tentang krisis pada waktunya sebagai crisis of ideas yang dapat dimaknai hanya dengan munculnya sebuah ide unggul (positivisme). Karena faktanya, Comte seringkali mendeskripsikan positivisme sebagai spirit. Itu berarti, dalam hal ini Comte juga merupakan seorang idealis. Dalam kontribusinya di bidang sosiologi, Comte mempunyai gagasan unik, yaitu memperkenalkan dan mendeskripsikan studi sosiologis statika sosial sebagai “penyelidikan hukum aksi dan reaksi dari berbagai bagian sistem sosial”.

Dalam kehidupan sehari-hari, beberapa pemikiran Comte ini sering dapat kita jumpai dan kita lakukan. Semisal dalam tiga tahapan perkembangan manusia yang digagasnya, pada tahap teologis dapat kita ambil contoh keseharian kita dalam melakukan ibadah, seperti berdoa, sholat, puasa, dan sebagainya merupakan implementasi dari kepercayaan kita kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tahap metafisik, kita dapat melihat bahwa seringkali pejabat yang ingin mempertahankan jabatannya masih sering pergi ke dukun, peramal, ataupun penasehat spiritual, padahal ia sendiri sudah mempunyai keilmuan ataupun pengetahuan, yang berarti ia mempunyai kepercayaan bahwa selain dewa atau tuhan, ada suatu kekuatan yang dapat mengontrol manusia, dalam hal ini adalah dukun, peramal, ataupun penasehat spiritual. Sedangkan yang terakhir, yaitu tahap positif, dapat kita ambil contoh seorang peneliti yang sedang mengadakan riset tentang pengaruh virus corona yang menjadi pandemi dari segi kesehatan, ekonomi, ataupun sosial. Itu berarti secara tidak langsung si peneliti tersebut yakin bahwa semua gejala alam dan fenomena yang terjadi dapat dijelaskan secara ilmiah.

 

Bibliography

Ritzer, George & Jeffrey Stepnisky. 2018. Classical Sociological Theory 7th Edition. London : SAGE.

Wibisono, Koento. 1996. Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Komentar