Konsep Alienasi: Gagasan Karl Marx Mempertanyakan Kembali Esensi Manusia dan Kritiknya terhadap Eksploitasi Masyarakat Kelas Bawah oleh Kapitalisme
Aldrich Noveandro Rafif Suryopramono
Teori Sosiologi Modern A
Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Konsep Alienasi adalah teori yang digagaskan
oleh Karl Marx tentang keadaan kaum buruh atau proletar yang terasing dari
kehidupannya. Keterasingan ini terjadi jika modal yang terkumpul untuk
kapitalis semakin banyak, sedangkan kaum buruh semakin miskin akibat
eksploitasi dari kaum kapitalis. Seperti apa alienasi itu bekerja dan bagaimana
latar belakang pemikiran Marx tentang alienasi ini muncul? Apa hubungannya
dengan esensi manusia? Semua itu akan dijelaskan penulis dalam tulisan ini.
Namun sebelum mengarah ke sana, alangkah lebih baiknya jika kita mengetahui
tentang perjalanan hidup dari Karl Marx, penggagas konsep alienasi ini.
Karl Marx lahir di Trier, Prusia pada
5 Mei 1818. Ia lahir di keluarga kelas menengah dan kedua orang tuanya
merupakan keturunan rabi. Ayahnya memutuskan untuk berpindah agama dan bergabung
dengan Lutheranisme karena alasan bisnis ketika Marx masih sangat muda. Marx
mengawali pendidikan tingginya di Universitas Bonn pada Oktober 1835 untuk
belajar filsafat dan sastra. Namun, ayahnya mendorongnya untuk masuk ke jurusan
hukum sebagai bidang yang lebih terapan. Karena dorongan itu, Marx menjadi
terkesan tidak serius, terlebih lagi ia juga terlibat dalam beberapa insiden dan
hal itu memaksa ayahnya untuk memindahkannya ke Universitas Berlin yang
mempunyai iklim akademis yang lebih serius. Marx muda saat itu sangat
terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Hegel. Ia yang gusar dengan situasi politik
di Prusia yang sedang tidak stabil waktu itu menemukan filsafat Hegel sebagai pemikiran
brilian dan intelektual yang akan menentukan arah pemikirannya. Ketika di Berlin,
ia tertarik dengan suatu kelompok yang berisi orang intelektual muda yang
kritis dan radikal. Kelompok tersebut menamakan diri mereka sebagai Klub Para
Doktor. Meskipun baru semester kedua, Marx sudah masuk ke dalam kelompok itu
dan menjadi anggota yang paling radikal. Kelompok itu memakai filsafat Hegel
sebagai alat kritik untuk mengkritik Kerajaan Prusia yang sangat konservatif.
Karena itu mereka disebut “kaum Hegelian-Muda”. Dengan filsafat Hegel yang
menekankan pada rasionalitas dan kebebasan, hal itu sangat cocok sebagai sarana
untuk mengkritik sistem politik yang otoriter. Meskipun Marx sangat terpengaruh
pada pemikiran Hegel saat itu, akan tetapi di sini ia juga menemukan
ketidakcocokannya terhadap filsafat Hegel. Pada tahun 1841, Marx berhasil
mendapatkan gelar doktornya dalam bidang filsafat di Universitas Berlin. Marx kemudian
menikah dengan Jenny von Westphalen pada tahun 1843. Pada tahun itu, Marx mulai
menulis kritikan untuk filsafat Hegel, seperti dalam karyanya “Critique of
Hegel’s Philosophy of Right”.
Dalam pandangan Marx mengenai konsep
manusia, ia mengkritik tajam tentang filsafat Hegel. Perlu untuk diketahui
bahwa kritik Marx yang membuka peluang terbesarnya menjadi “musuh kapitalis” adalah
kritiknya mengenai ringkasan Hegel yang berjudul “Philosophy of Right”.
Dalam ringkasan tersebut diperlihatkan bahwa Hegel mempunyai konsepsi mengenai
negara modern didasarkan pada relasi ekonomi borjuis. Marx lalu mengidentifikasi
sudut pandang Hegel mengenai ekonomi politik itu dan memulai kritiknya terhadap
pemikiran ekonomi borjuis dan pencapaian-pencapaiannya. Kritikan-kritikan Marx
pada filsafat Hegel itu kemudian berkembang menjadi sebuah pemikiran baru setelah
ia terpengaruh dengan filsafat Feuerbach dan akhirnya bertemu dengan Friedrich
Engels. Ia sangat terkesan dengan teori proyeksi agama dari Feuerbach, namun
juga tetap mengkritisinya. Sampai akhirnya ia bersama dengan Engels menulis
tesisnya tentang Feuerbach dalam buku “The German Ideology”. Dalam
tulisan ini penulis tidak membicarakan tentang proyeksi agama dan teologi dari
Feuerbach, namun lebih cenderung kepada pembahasan materialisme historis.
Dikutip dari buku “Marx’s Concept of Man” karya Erich Fromm, bahwa Marx
membedakan antara materialisme historis dan materialisme kontemporer dengan
sangat jelas dalam tesisnya tentang Feuerbach, “Kelemahan pokok semua
materialisme sampai sekarang (termasuk materialisme Feuerbach) adalah bahwa
objek, realitas yang kita tangkap melalui indera dipahami hanya dalam bentuk
objek atau kontemplasi, bukan sebagai aktivitas manusia yang inderawi, sebagai
praktek, bukan secara subjektif. Dalam hal ini, Marx meyakini bahwa motif
psikologis manusia yang paling kuat adalah meraih uang dan mendapatkan
kesenangan material yang lebih banyak. Motif ini bisa direalisasikan hanya jika
seseorang mempunyai modal lebih dan dapat menguasai alat-alat produksi.
Sedangkan kita mengetahui bahwa penguasaan alat-alat produksi itu mutlak
dipegang oleh kaum borjuis kapitalis. Sedangkan kaum buruh atau proletar yang
berada di bawahnya secara otomatis tidak akan dapat merealisasikan motif
psikologisnya, bahkan motif sosialnya sebagai manusia. Oleh karena itu,
filsafat Marx muncul sebagai sebuah protes yang diilhami oleh keyakinan pada
manusia, pada kemampuan manusia untuk membebaskan dirinya dan menyadari
potensialitasnya. Filsafat Marx tersebut kemudian mengutip kembali konsep
alienasi yang sempat dipopulerkan oleh Hegel, tetapi dengan warna yang berbeda. Erich
Fromm dalam “Marx’s Concept of Man” menjelaskan bahwa alienasi
(pengasingan) menurut Marx, bukan hanya berarti bahwa manusia tidak mengalami
dirinya sebagai pelaku ketika menguasai dunia, tetapi juga berarti bahwa dunia
(alam, benda-benda, dan manusia sendiri) tetap asing bagi manusia. Sejarah
perkembangan manusia semakin meningkat dan hal itu dapat memperparah alienasi. Marx
menguraikan proses alienasi ini dalam kerja dan pembagian buruh. Alienasi ini terjadi
karena adanya division of labour, dimana pekerja dibebani tugas dalam
skala kecil tetapi terus berulang. Hasil dari proses alienasi ini adalah
ketidakberdayaan dan ketiadaan norma. Marx membagi alienasi menjadi empat hal.
Pertama, alienasi dari tindakan bekerja. Idealnya dalam bekerja orang bisa
memenuhi kebutuhan sekaligus mengembangkan potensi individualitas. Namun, dalam
pola kerja pabrik tidak menghasilkan itu dan menyebabkan kemampuan kreatif
seseorang stagnan. Kedua, alienasi dari hasil pekerjaan. Produk yang dihasilkan
oleh pekerja bukan milik si pekerja melainkan milik si kapitalis. Semakin banyak
pekerja menginvestasikan tenaganya dalam proses produksi, sesungguhnya semakin
banyak pula ia kehilangan hasilnya. Marx menyebutnya dalam teori nilai lebih (surplus
value). Ketiga, Alienasi dari pekerja lain. Lewat tindakan bekerja, orang
seharusnya mampu membangun ikatan sosial dalam komunitas. Namun dalam
masyarakat industrial, pekerja satu dengan pekerja lain justru malah terpisah
dan diperparah oleh pola hubungan sosial yang kompetitif, sehingga kesempatan
membangun ikatan komunitas menjadi kecil atau cenderung tidak ada. Keempat,
alienasi dari potensi kemanusiaan. Masyarakat industrial ibarat mesin. Pekerja
baru akan merasakan kedirian manusianya saat jam istirahat saja. Karena itu
semua, Filsafat yang digagas Marx sejatinya adalah gerakan untuk melawan
dehumanisasi dan otomatisasi manusia yang melekat dalam perkembangan industrialisasi
Barat yang semakin memperparah alienasi.
Konsep Alienasi Karl Marx ini dapat
dilihat dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Kaum buruh semakin tidak
berdaya ketika dihadapkan dengan kaum kapitalis dari segi apapun. Di Indonesia
misalnya, baru-baru ini terjadi polemik di masyarakat dengan disahkannya UU
Cipta Kerja (Omnibus Law). Dalam Omnibus Law, para buruh
mempermasalahkan tentang kurangnya nilai pesangon, waktu kerja yang eksploitatif,
PHK yang dipermudah, hak upah cuti yang hilang, serta mempermudah tenaga kerja
asing yang masuk ke Indonesia. Hal itu semua tentu saja melanggar hak asasi dari
kaum buruh. Mengingat bahwa buruh sendiri merupakan pekerja yang menghidupi
kaum kapitalis, dengan adanya undang-undang yang memarginalkan kaum buruh
tersebut membuat esensi manusia yang ada dalam diri mereka menjadi memudar atau
mungkin hilang. Hal ini tentu saja dapat memperparah alienasi yang terjadi dalam
masyarakat kelas bawah, yang dalam hal ini adalah kaum buruh.
Bibliography
1. Ritzer, George &
Jeffrey Stepnisky. 2018. Classical Sociological Theory 7th
Edition. London: SAGE.
2. Suseno, Franz Magnis.
2005. Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
3. Fromm, Erich. 2004. Konsep
Manusia Menurut Marx. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.



Komentar
Posting Komentar